Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif

Contoh.org – Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif.

Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) merupakan salah satu mata pelajaran pada Kurikulum 2013. Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif.

PJOK merupakan bagian integral dari program pendidikan nasional, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial,

penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui pembekalan pengalaman belajar menggunakan aktivitas jasmani terpilih dan dilakukan secara sistematis.

Kurikulum 2013 menekankan bahwa mata pelajaran PJOK memiliki konten yang unik untuk memberi warna pada pendidikan karakter bangsa, di samping diarahkan untuk mengembangkan kompetensi gerak dan gaya hidup sehat.

Muatan kearifan lokal dari Kurikulum 2013 diharapkan mampu mengembangkan apresiasi terhadap kekhasan multikultural dengan mengenalkan permainan dan olahraga tradisional yang berakar dari budaya suku bangsa Indonesia.

Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif

Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif

Terampil berolahraga bukan berarti peserta didik dituntut untuk menguasai cabang olahraga dan permainan tertentu, melainkan mengutamakan proses perkembangan gerak peserta didik dari waktu ke waktu.

Dalam aktivitasnya, peserta didik dibawa dalam suasana gembira, sehingga dapat berekplorasi dan menemukan sesuatu secara tidak langsung.

Untuk mengaktualisasikan PJOK seperti ini, peserta didik harus dijadikan sebagai subyek didik.

Proses pembelajaran Pendidikan, Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah-sekolah Indonesia saat ini masih memprihatinkan.

Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah terbatasnya kemampuan guru PJOK dan sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran PJOK.

Kualitas guru PJOK yang ada pada sekolah dasar dan lanjutan pada umumnya kurang memadai. Mereka kurang mampu dalam melaksanakan profesinya secara kompeten.

Mereka belum berhasil melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendidik siswa secara sistematik melalui pendidikan jasmani.

Tampak pendidikan jasmani belum berhasil mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak secara menyeluruh baik fisik,Mental maupun intelektual.

Hal ini benar mengingat bahwa banyak guru PJOK di sekolah adalah bukan guru khusus yang secara normal mempunyai kompetensi dan pengalaman yang terbatas dalam bidang pendidikan jasmani.

Mereka banyak adalah guru kelas yang harus mampu mengajar berbagai mata pelajaran yang salah satunya adalah PJOK.

Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktik pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model metode-metode praktik dipusatkan pada guru (Teacher Centered) dimana para siswa melakukan latihan fisik berdasarkan perintah yang ditentukan oleh guru.

Latihan-latihan tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh anak sesuai dengan inisiatif sendiri (Student Centered).

Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif.

Guru PJOK tradisional cenderung menekankan pada penguasaan keterampilan cabang olahraga. Pendekatan yang dilakukan seperti halnya pendekatan pelatihan olahraga.

Dalam pendekatan ini, guru menentukan tugas-tugas ajarnya kepada siswa melalui kegiatan fisik tak ubahnya seperti melatih suatu cabang olahraga.

Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak optimalnya fungsi pengajaran pendidikan jasmani sebagai medium pendidikan dalam rangka pengembangan pribadi anak seutuhnya.

Ditinjau dari konteks isi kurikulum, pembelajaran yang dilakukan oleh guru PJOK secara praktis tidak tampak adanya kesinambungan.

Tugas ajar yang diberikan oleh guru untuk SD, SMP dan SMA pada hakikatnya tidak berbeda. Demikian pula, ketidakjelasan dalam tata urutan dan tingkat kesukaran tugas-tugas ajar tersebut.

Penerapan model pembelajaran PJOK tradisional sering mengabaikan tugas-tugas ajar yang sesuai degan taraf perkembangan anak.

Mengajar anak-anak SD, SMP disamakan dengan anak-anak SMA. Bentuk-bentuk modifikasi baik dalam peraturan, ukuran lapangan maupun jumlah pemain tidak terperhatikan.

Karena tidak dilakukan modifikasi, sering mereka tidak mampu dan gagal untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.

Sebagai akibat dari kondisi seperti ini, anak dapat menjadi kurang senang terhadap Pelajaran PJOK.

Tugas-tugas ajar yang merupakan keterampilan kompleks itu sesungguhnya hanya mampu dilakukan oleh anak-anak yang berbakat dan berminat dalam olahraga serta anak-anak yang memiliki tingkat keterampilan gerak dasar yang tinggi.

Tidak ada upaya upaya memodifikasi tugas gerak yang kompleks menjadi tugas gerak yang sederhana, dapat diramalkan tingkat keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas yang harus dipelajari akan tergolong rendah.

Untuk itu kebutuhan akan modifikasi olahraga sebagai suatu pendekatan alternatif dalam mengajar PJOK mutlak perlu dilakukan.

Guru harus memiliki kemampuan untuk melakukan modifikasi keterampilan yang hendak diajarkan agar sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif

Proses pembelajaran, khususnya pembelajaran PJOK dapat dipandang sebagai seni dan Jilmu (art and cience).

Sebagai seni, pembelajaran hendaknya dipandang sebagai proses yang menuntut intuisi, kreativitas, improviasi, dan ekspresi dari guru.

Ini berarti guru memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan dan tindakan proses pembelajaran selama dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan pandangan hidup dan etika yang berlaku.

Jadi guru tidak harus selalu terpaku dan terikat formula ilmu mengajar.

Pembelajaran dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi karakteristik sebagai berikut:

(1) Memiliki daya ramal dan kontrol terhadap pencapaian prestasi belajar siswa.

(2) dapat dievaluasi secara sistematik dan dapat dipecah menjadi rangkaian kegiatan yang dapat dikuasai.

(3) mengandung pemahaman tentang tingkah laku manusia, pengubahan tingkah laku, rancangan pembelajaran, penyampaian dan manajemen.

(4) berkaitan erat dengan prinsip belajar seperti kesiapan, motivasi, latihan, umpan balik, dan kemajuan seta urutan.

(5) dimungkinkannya untuk mengkaji pengajaran dari sudut keilmuan.

Walaupun proses untuk membentuk teori pembelajaran PJOK merupakan perjalanan yang panjang, namun upaya untuk memahami tentang proses pembelajaran merupakan arah yang harus dituju,

selama “body of knowledge” tentang pembelajaran belum mapan, atau selama pembelajaran cenderung merupakan seni, maka perilaku guru dalam pengajaran akan menjadi tetap menarik untuk dikaji oleh pengamat tingkah laku setiap saat.

Tujuan utama pembelajaran PJOK di sekolah adalah memantau siswa agar meningkatkan keterampilan gerak mereka, disamping agar mereka merasa senang dan mau berpartisipasi dalamberbagai aktivitas.

Diharapkan apabila mereka memiliki pondasi pengembangan keterampilangerak, pemahaman kognitif, dan sikap yang positif terhadap aktivitas jasmani kelak akanmenjadi manusia dewasa yang sehat dan segar jasmani dan rohani serta kepribadian yangmantap.

Hingga dewasa ini salah satu masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran PJOK adalah langkahnya sarana dan sarana penunjang dan bervariasinya kondisi pendidikan jasmani di sekolah.

Bagaimana seorang guru (kelas) dapat mengajarkan pendidikan jasmani dengan sukses dalam situasi keterbatasan dan perbedaan kondisi tersebut di atas?

Model pengajaran yang tradisional yang sangat bergantung dari tersedianya sarana dan prasarana serta bersifat linier

dalam arti tidak leluasa untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat saat itu karena tertumpu pada satu acuan pendekatan tradisional.

Pengajaran reflektif mencakup pengertian guru yang sukses atau efektif dalam arti tercapainya kepuasan profesional.

Pendekatan pengajaran refleksi menekankan pada kreatifitas penumbuhan kondisi pembelajaran yang kondusif melalui penerapan berbagai keterampilan mengajar yang disesuaikan dengan situasi (lingkungan) tertentu.

Pengertian pengajaran reflektif tidak menunjuk salah satu metodologi atau model pengajaran tertentu, namun menunjuk pada berbagai keterampilan mengajar yang diadaptasikan secara tepat oleh guru dalam proses belajar mengajar.

Guru yang reflektif selalu melakukan penilaian terhadap lingkungan sekitar dalam upaya mengidentifikasi dan memanfaatkan berbagai unsur dan sumber daya yang ada secara optimum dan selanjutnya dijadikan bahan untuk menentukan penilaian dan membuat rencana pembelajaran.

Pengajaran reflektif ini berbeda dengan pengajaran tradisional atau pengajaran “invariant” yang diberi ciri dengan penggunaan satu metode dalam berbagai situasi pengajaran.

Karakteristik Guru Efektif dan Guru Tradisional

Variabel Guru Efektif Guru Tradisional
Perencanaan Sesuai rencana pelajaran pada kelas
dan anak yang berbeda.
Gunakan rencana pelajaran yang
sama.
Kemajuan Didasarkan pada kondisi faktor:         (1) irama dan tingkat perkembangan,
(2) kebutuhan keterampilan,
(3) perhatian dalam topik atau
aktivitas.
Didasarkan pada faktor seperti:
(1) Unit kegiatan 6 minggu, (2)
jumlah materi yang telah dicakup
dalam satu semester/tahun, (3)
rumus yang ditetapkan sebelumnya.
Kurikulum Rancang setiap kelas yang unik
setelah diadakan penilaian awal dari
kemampuan dan kebutuhan.
Gunakan kurikulum yang telah
ditetapkan tanpa faktor seperti
kemampuan anak, pengaruh
masyarakat atau minat anak.
Peralatan &
fasilitas
Modifikasi kegiatan dan pelajaran
sesuai peralatan dan fasilitas yang
ada di lingkungan.
Mengajar sesuai dengan peralatan
dan fasilitas yang tersedia.
Disiplin Berupaya memahami masalah
dan mencari penyebab dan
pemecahannya, memodifikasi
prosedur pengajarannya.
Mengasumsi anak bersikap tidak
pada tempatnya dan berupaya
mengatasi tingkah laku individu/
kelas
Evaluasi Mengevaluasi anak secara teratur
dan mengevaluasi keefektifan
pengajarannya lewat anak didik dan
teman sejawat.
Mengevaluasi secara sporadik
biasanya berdasarkan pada kesukaan anak dan minat anak kebaikan perilaku anak didik.

Selama dua dekade terakhir pembelajaran PJOK dengan pendekatan refleksi telah berhasil dilaksanakan di beberapa negara seperti Amerika dan Australia.

Hasil riset tentang pendekatan pembelajaran PJOK menunjukkan bahwa ada tiga butir hal yang penting untuk diperhatikan agar pengajaran pendidikan jasmani efektif,

dalam arti bahwa anak didik akan memiliki keterampilan bergerak yang tinggi dengan sikap yang positif terhadap kegiatan fisik.

Ketiga hal itu meliputi:

(1) Anak didik memerlukan latihan praktek yang tepat dan memadai,

(2) Latihan praktek tersebut harus memberikan peluang tingkat sukses (rate of success) yang tinggi,

(3) Lingkungan perlu distrukturisasi sedemikian rupa sehingga menumbuhkan iklim belajar yang kondusif.

Memperhatikan kelebihan pendekatan pengajaran reflektif dibandingkan dengan pembelajaran tradisional di samping faktor kemungkinan keterlaksanaannya pendekatan pembelajaran reflektif di Indonesia, walau masih diperlakukan suatu kajian-kajian empirik yang mendalam, diperkirakan pengajaran reflektif ini dapat digunakan sebagai alternatif utama bagi para guru pendidikan jasmani.

Masalah yang dihadapi: Bagaimana merubah wawasan dan perilaku guru agar siap dan mampu melaksanakan pendekatan pembelajaran reflektif pada pembelajaran PJOK di sekolah itu?

Perubahan kurikulum khususnya kurikulum SMP pada hakikatnya menuntut perubahan wawasan dan perilaku guru agar kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk itu sangat perlu direncanakan secara matang mengenai strategi implementasi dari kurikulum tersebut.

Penataran dan pelatihan guru, pengadaan fasilitas dan peralatan yang mendukung pelaksanaan kurikulum perlu direncanakan dan diadakan guna mendukung keberhasilan implementasi kurikulum.

Upaya perbaikan dan pengembangan kurikulum SD, SMP, dan SMA yang baru ini harus dilakukan dengan cermat dan memperhitungkan berbagai faktor termasuk faktor keterlaksanaannya.

Pengalaman empirik selama ini menunjukkan bahwa dari seluruh isi kurikulum PJOK yang tertulis itu hanya sebagian kecil saja yang dapat diimplementasikan

karena berbagai kendala termasuk terbatasnya sarana dan prasarana pendukung dan keterbatasan wawasan dan kemampuan guru.

Mengingat guru mempunyai peran yang penting dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, maka panduan untuk guru guna mendukung peran guru di lapangan perlu diadakan.

Demikian pula penataran dan pelatihan guru perlu terus diupayakan agar mereka menjadi guru yang profesional dan kreatif dalam arti dapat memecahkan masalah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungannya.

Guru yang reflektif sangat diperlukan guna mendukung keterlaksanaan kurikulum secara efektif seperti yang diharapkan.

Pembelajaran merupakan proses interaktif antara guru dengan siswa, melibatkan multi pendekatan dengan menggunakan teknologi yang akan membantu memecahkan permasalahan faktual di dalam kelas.

Terdapat tiga komponen dalam definisi pembelajaran, yaitu:

Pertama, pembelajaran adalah suatu proses, bukan sebuah produk, sehingga nilai tes dan tugas adalah ukuran pembelajaran, tetapi bukan proses pembelajaran.

Kedua, pembelajaran adalah perubahan dalam pengetahuan, keyakinan, perilaku/sikap.

Perubahan ini memerlukan waktu, terutama ketika pembentukan keyakinan, perilaku dan sikap. Guru tidak boleh menafsirkan kekurangan siswa dalam pemahaman sebagai kekurangan dalam pembelajaran, karena mereka memerlukan waktu untuk mengalami perubahan.

Ketiga, Pembelajaran bukan sesuatu yang dilakukan kepada siswa, tetapi sesuatu yang mereka kerjakan sendiri.

Artinya, pembelajaran PJOK merupakan kebutuhan dasar bagi setiap anak, tanpa harus dipengaruhi instruksi dari orang lain.

Ketiga hal ini yang mempengaruhi kualitas pembelajaran PJOK, selain peluang untuk belajar, konten yang sesuai, intruksi yang tepat, serta penilaian siswa dan pembelajaran.

Pembelajaran PJOK mengandung makna pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani untuk menghasilkan peningkatan secara menyeluruh terhadap kualitas fisik, mental, dan emosional siswa.

Kata aktivitas jasmani mengandung makna bahwa pembelajaran berbasis aktivitas fisik. Kata olahraga mengandung makna aktivitas jasmani yang dilakukan dengan tujuan untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot-otot tubuh.

Kegiatan pembelajaran ini dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi.

Sementara kualitas fisik, mental dan emosional disini bermakna, pembelajaran PJOK membuat siswa memiliki kesehatan yang baik, kemampuan fisik,

memiliki pemahaman yang benar, memiliki sikap yang baik tentang aktifitas fisik, sehingga sepanjang hidupnya mereka akan memiliki gaya hidup sehat dan aktif.

Berdasarkan uraian tersebut, secara substansi PJOK mengandung aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Tujuan utama PJOK adalah meningkatkan life-long physical activity dan mendorong perkembangan fisik, psikologis dan sosial siswa.

Jika ditelaah lebih lanjut, tujuan ini mendorong perkembangan motivasi diri untuk melakukan aktivitas fisik, memperkuat konsep diri, belajar bertanggung jawab dan keterampian kerja sama.

Siswa akan belajar mandiri, mengambil keputusan dalam proses pembelajaran, belajar bertanggung jawab dengan diri dan orang lain.

Proses menuju memiliki rasa tanggung jawab ini setahap demi setahap beralih dari guru kepada siswa.

Baca Juga: Memilih Media Sumber Belajar Digital dari Internet

Demikian ulasan Contoh Pembelajaran PJOK yang Efektif. Semoga bermanfaat.