Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19

Contoh.org – Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19

Pandemi COVID-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan dampak pada kondisi kesehatan jiwa dan psikososial setiap orang.

Pada tanggal 16 Juni 2020, Indonesia melaporkan kasus konfirmasi COVID-19 sebanyak 40.400 kasus positif, pasien sembuh sebanyak 15.703 dan meninggal sebanyak 2.231 orang.

Menurut WHO (2020), munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisam masyarakat.

Meskipun sejauh ini belum terdapat ulasan sistematis tentang dampak COVID-19 terhadap kesehatan jiwa,

namun sejumlah penelitian terkait pandemi (antara lain flu burung dan SARS) menunjukkan adanya dampak negatif terhadap kesehatan mental penderitanya.

Kondisi kesehatan masyarakat terkait penularan virus corona dibagi menjadi orang tanpa gejala, orang dengan pemantauan, pasien dengan pengawasan, dan orang yang menderita COVID-19.

Belum ada penelitian yang mengukur masalah kesehatan jiwa dan psikososial masyarakat terkait dengan pandemi ini,

namun berdasarkan hasil penelitian WHO (2005) saat bencana tsunami, maka perlu segera dilakukan promosi kesehatan jiwa dan psikososial, pencegahan terjadinya masalah kesehatan jiwa dan psikososial, serta mendeteksi dan memulihkan masalah kesehatan jiwa dan psikososial.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Masa Pandemi Covid-19

Secara global istilah ‘Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) atau Mental Health and Psychososcial Support (MHPSS)’ digunakan dalam Panduan Inter Agency Standing Committee (IASC) dalam Situasi Kedaruratan,

yang berarti dukungan jenis apa pun dari luar atau lokal yang bertujuan melindungi atau meningkatkan kesejahteraan psikologis dan/ atau mencegah serta menangani kondisi kesehatan jiwa dan psikososial.

Selain itu Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) dipakai berbagai pihak untuk merespons kondisi kedaruratan maupun bencana, salah satunya pandemi COVID-19.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) mengintegrasikan pendekatan biologis, psikologis, dan sosiokultural di bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan komunitas,

serta untuk menekankan perlunya pendekatan-pendekatan yang beragam dan saling melengkapi dari berbagai profesi dalam memberikan dukungan yang sesuai.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) dalam Situasi Kedaruratan mengedepankan berbagai tingkatan intervensi agar diintegrasikan dalam kegiatan respons pandemi.

Tingkatan-tingkatan ini disesuaikan dengan spektrum kebutuhan kesehatan jiwa dan psikososial dan digambarkan dalam piramida intervensi,

mulai dari mempertimbangkan aspek sosial dan budaya dalam layanan-layanan dasar, hingga memberikan layanan spesialis untuk orang-orang dengan masalah kesehatan jiwa dan psikososial yang lebih berat.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19

Piramida intervensi dukungan kesehatan jiwa dan psikososial

Prinsip-prinsip utamanya adalah jangan menyakiti, menjunjung hak asasi manusia dan kesetaraan, menggunakan pendekatan partisipatif,

meningkatkan sumber daya dan kapasitas yang sudah ada, menjalankan intervensi berlapis dan menjalankan tugas dengan sistem dukungan terintegrasi.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19

Adapun Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19 antara lain berupa Peningkatan Imunitas (Promosi kesehatan) Fisik dan Peningkatan Kesehatan Jiwa dan Psikososial.

Peningkatan imunitas fisik

Melalui Peningkatan imunitas fisik dalam rangka mencegah infeksi dari virus COVID-19, di antaranya dapat diupayakan melalui:
• Makanan seimbang (karbohidrat, protein, sayur, buah-buahan yang mengandung vitamin dan mineral), jika diperlukan tambahan vitamin.

• Minum yang cukup, orang dewasa minimal 2 liter per hari.

• Olah raga minimal 30 menit sehari.

• Berjemur di pagi hari seminggu dua kali.

• Tidak merokok dan tidak minum alkohol.

Peningkatan Kesehatan Jiwa dan Psikososial

Kondisi kesehatan jiwa dan kondisi optimal dari psikososial dapat tingkatkan melalui:

• Emosi positif: gembira, senang dengan cara melakukan kegiatan dan hobby yang disukai, baik sendiri maupun bersama keluarga atau teman.

• Pikiran positif: menjauhkan dari informasi hoax, mengenang semua pengalaman yang menyenangkan, bicara pada diri sendiri tentang hal yang positif (positive self-talk), responsif (mencari solusi) terhadap kejadian, dan selalu yakin bahwa pandemi akan segera teratasi.

• Hubungan sosial yang positif : memberi pujian, memberi harapan antar sesama, saling mengingatkan cara-cara positif, meningkatkan ikatan emosi dalam keluarga dan kelompok, menghindari diskusi yang negatif, dan saling memberi kabar dengan rekan kerja, teman atau seprofesi;

• Secara rutin tetap beribadah di rumah atau secara daring.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19

Pencegahan masalah Kesehatan Jiwa dan Psikososial (Pencegahan Masalah Kesehatan)

Pencegahan penularan

1. Jarak sosial (Social distancing): Jarak sosial adalah jarak interaksi sosial minimal 2 meter, tidak berjabat tangan, dan tidak berpelukan sehingga penularan virus dapat dicegah.

Jarak sosial ini sepertinya membuat interaksi menjadi semakin jauh, rasa sepi dan terisolasi. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan intensitas interaksi sosial melalui media sosial yang tidak berisiko terkena percikan ludah.

2. Jarak fisik (Physical distancing): Jarak fisik adalah jarak antar orang dimanapun berada minimal 2 meter, artinya walaupun tidak berinteraksi dengan orang lain jarak harus dijaga dan tidak bersentuhan.

Tidak ada jaminan baju dan tubuh orang lain tidak mengandung virus COVID-19 sehingga jarak fisik dapat mencegah penularan.

3. Cuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir sebelum dan sesudah memegang benda.

Tangan yang memegang benda apa saja mungkin sudah ada virus COVID-19, sehingga cuci tangan pakai sabun dapat menghancurkan kulit luar virus dan tangan bebas dari virus.

Hindari menyentuh mulut, hidung dan mata, karena tangan merupakan cara penularan yang paling berbahaya.

4.  Pakai masker kain yang diganti setiap 4 jam.
Pada situasi pandemi tidak diketahui apakah orang lain sehat atau OTG (yang tidak memperlihatkantanda dan gejala pada hal sudah mengandungvirus corona), jadi pemakaian masker kain bertujuan tidak menularkan dan tidak ketularan.

5. Setelah pulang ke rumah. Pada situasi yang terpaksa harus ke luar rumah, maka saat pulang
ke rumah upayakan meninggalkan sepatu di luar rumah, lalu segera mandi dan pakaian segera dicuci.

Oleh karena itu setiap orang diminta tinggal di rumah (stay at home) artinya bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah dari rumah, dan semua aktifitas dilakukan di rumah.

Hindari pertemuan-pertemuan seperti pesta ulang tahun, pesta perkawinan, ibadah berjamaah, dan kerumunan orang banyak.

Pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial

Masalah kesehatan jiwa dan psikososial dapat berupa ketakutan, cemas, dan panik terhadap kejadian COVID-19.

Orang semakin enggan bertemu dengan orang lain dan muncul curiga orang lain dapat menularkan.

Perasaan ini akan memberikan respons pada tubuh untuk cepat melakukan perlindungan untuk memastikan keamanan.

Gejala awal yang terjadi adalah khawatir, gelisah, panik, takut mati, takut kehilangan kontrol, takut tertular, dan mudah tersinggung.

Jantung berdebar lebih kencang, nafas sesak, pendek dan berat, mual, kembung, diare, sakit kepala, pusing, kulit terasa gatal, kesemutan, otot otot terasa tegang, dan sulit tidur yang berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19

Pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial oleh individu

Sikap mental menghadapi situasi ini dapat berupa:
1. Sikap Reaktif
Sikap mental yang ditandai dengan reaksi yang cepat, tegang, agresif terhadap keadaan yang terjadi dan menyebabkan kecemasan dan kepanikan.

Contoh perilakunya adalah: memborong bahan makanan, masker, hands-sanitizer, vitamin dll.

Sikap reaktif ini dapat dikendalikan dengan cara mencari berbagai info atau masukan dari banyak orang sebelum mengambil keputusan.

2. Sikap Responsif
Sikap mental yang ditandai dengan sikap tenang, terukur, mencari tahu apa yang harus dilakukan dan memberikan respons yang tepat dan wajar.

Selain itu Sikap responsif dapat dikembangkan agar tidak terjadi masalah kesehatan jiwa dan psikososial.

Pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial dalam keluarga

Kegiatan keluarga yang konstruktif semakin menguatkan ikatan emosional dan keluarga  semakin harmonis.

Keluarga dapat merencanakan kegiatan 5B: belajar, beribadah, bermain, bercakap-cakap dan berkreasi bersama.

Pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial di sekolah dan tempat kerja

Proses pembelajaran yang dilakukan secara daring dapat menimbulkan kebosanan/ kejenuhan, sehingga mengakibatkan meningkatnya stress pada anak didik.

Sekolah dan kampus dapat mengorganisasikan proses pembelajaran yang menarik dan komunikatif seperti voice note atau video mengajar,

pertemuan lewat daring yang santai dan fleksibel, serta dapat menggunakan surel dan media sosial.

Di tempat kerja, dibuat jadwal bekerja yang fleksibel, sehingga membuat lebih nyaman dalam bekerja untuk mencegah penurunan imunitas karyawannya.

Pimpinan harus memiliki protokol standar kesehatan dan keselamatan dalam bekerja.

Baca Juga: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Covid-19

Demikian ulasan tentang Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Orang Sehat Masa Pandemi Covid-19. Semoga bermanfaat.

Rujukan: Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Masa Pandemi Covid-19